Rabu, 25 November 2015

Tentang Rindu...

Pertemuan yang singkat namun meninggalkan rindu yang mendalam. Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini dan aku sudah menyadarinya dari awal bahwa setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. dari pertemuan itu aku mencoba untuk memanfaatkan waktu dengan mencurahkan seluruh energi positif untuk bebagi keceriaan dengan rekan-rekan disana. Tapi sayangnya ada seseorang yang membuatku jatuh terlalu dalam pada pertemuan itu. Ya seseorang itu telah masuk terlalu jauh ke dalam pikiranku. Anganku terus tertuju padanya. Aku mencoba menahan rasa itu namun tak bisa, justru semakin dalam rasa itu tumbuh. Entah rencana apa yang akan dibuat oleh sang pemilik alam. Rasanya aku telah jatuh cinta, jatuh cinta pada makhluk Tuhan yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Dan hari-hari ku tak pernah lepas dari bayangannya. Aku tidak tahu bagaimana harus mengolah rasa ini, apakah aku harus terus memperjuangkannya atau cukup hanya menjadi pemuja rahasia. Semakin hari rasa rindu ini terus menebal dan aku tak tahu harus bagaimana menghadapi ini semua. Yang bisa kulakukan saat ini hanya berdoa agar Tuhan mau mempertemukan kita secepatnya, agar ia bisa tahu perasaan ini dan bisa terungkap semua isi hati ini. Walaupun cinta ini tak berbalas tak mengapa karena cinta memang tidak bisa dipaksakan. 

Untukmu kunci surgaku....

Minggu, 22 November 2015

Bapak Tua

Sering kali kita melihat masalah hanya dari kaca mata pribadi.
Ada seorang bapak tua bersama 4 orang anaknya yang masih kecil-kecil,
mereka naik kereta ekonomi dari jatinegara menuju semarang.
Di dalam kereta anak-anak itu sangat ribut sehingga mengganggu penumpang yang lain,
berlarian kesana kemari teriak-teriak tawa mewarnai keceriaan mereka.
Penumpang yang lain banyak yang merasa terganggu dengan tawa anak-anak itu
sang bapak tua itu sepertinya tidak mau tahu.
Seorang ibu memberanikan diri untuk menegur bapak tua.

Ibu = "Pak maaf apakah anak-anak itu anak Bapak?"

Bapak Tua = (tanpa menjawab bapak tua itu pelan-pelan mengangkat kepala dan melihat kearah
ibu yang menegurnya) "ada apa bu ?"

Ibu = "Itu Pak anak Bapak, mereka berisik dan mengganggu penumpang yang lain,
tolong disuruh diam Pak, sebagai orang tua seharusnya bapak bisa menjaga anak-anaknya dong,
kami merasa terganggu"

Bapak Tua = "Oh maaf bu, saya tidak bisa" (jawab Bapak Tua)

Ibu = "Kenapa tidak bisa? kan itu anak bapak!"

Bapak Tua = "Saya tidak tega"

Ibu = "Kenapa tidak tega?"

Bapak Tua = "Tiga hari yang lalu mereka baru saja kehilangan kedua orang tuanya
akibat kecelakaan pesawat, sejak kecelakaan itu mereka tidak pernah berhenti menangis
dan baru hari ini saya bisa melihat mereka tertawa, saya tidak tega memberhentikan tawanya
jika ibu tega saya persilahkan" (jawab bapak tua mengakhiri percakapan)

Sang ibu kemudian kembali ketempat duduknya dan tidak bisa berkata apa-apa lagi
sambil meneteskan air matanya. Kini marahnya berubah menjadi sayang,
bencinya jadi simpati, ia sangat senang melihat anak yatim piatu itu bisa tertawa lepas.
Yakinlah pada saat kita mau membuka mata hati dan pendengaran
pastilah hidup ini lebih mudah untuk dipahami.
Kebencian jadi kasih sayang, dendam jadi persahabatan.
Tidak ada yang salah dalam kehidupan ini,
yang salah adalah pada saat kita tidak berusaha mengerti tentang kehidupan.
sungguh Allah menginginkan kebaikan bagimu kehidupan di dunia dan di akhirat
karena Allah maha pengasih lagi maha penyayang.

(Oleh : Ustadz Bagus Hernowo)